Perkiraan Data Ekonomi, Tgl 22 September 2016

Pasar valuta asing (bahasa Inggris: foreign exchange market, forex) atau disingkat valas merupakan suatu jenis perdagangan atau transaksi yang memperdagangkan mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lainnya (pasangan mata uang/pair) yang melibatkan pasar-pasar uang utama di dunia selama 24 jam secara .

Apakah sebuah perusahaan akan langsung mempekerjakan seorang karyawan hanya karena CV-nya baca: Dan kriteria dari saham bagus tersebut minimal ada tiga: Maksud dibuatnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh SDM dalam sebuah organisasi adalah memenuhi salah satu tugas mata kuliah pengantar manjemen dan bisnis. MSDM juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan, penyusunan personalia, pengembangan karyawan, pengeloaan karir, evaluasi kerja, kompensasi karyawan dan hubungan perburuhan yang mulus.

Cari Artikel/Analisis Saham? Ketik Kata Kuncinya Disini:

signupforpeace.cf menyajikan berita ekonomi terkini. Fokus pemberitaan Investasi Dollar adalah berita forex, saham, valuta asing, pergerakan nilai tukar dollar dan kurs mata uang utama lainnya, komoditi, harga emas logam mulia dan harga minyak dunia. Dilengkapi analisa harian dan indikator pasar keuangan dunia hari ini, rubrik belajar .

Nah, jika kita asumsikan bahwa CPIN masih akan beroperasi hingga 10 tahun mendatang, dan bahwa selama 10 tersebut perusahaan berhasil mencetak EPS Rp per tahunnya, maka akumulasi dari EPS tersebut selama sepuluh tahun adalah Rp1, Ditambah ekuitas sebesar Rp tadi, maka kita memperoleh angka Rp2, Namun, perhitungannya belum selesai.

Jadi pertanyaannya sekarang ada dua: Pertama, apakah anda cukup yakin bahwa CPIN bisa beroperasi selama lebih dari 10 tahun, katakanlah 20 tahun? Untuk pertanyaan ini misalnya kita jawab saja: Sekedar catatan, EPS untuk tahun yang sebesar Rp nggak ikut dihitung, karena EPS tersebut sudah termasuk dalam ekuitas perusahaan di tahun yang sama dalam bentuk saldo laba. Sekali lagi, ingat bahwa dalam menghitung nilai intrinsik, yang dihitung adalah akumulasi dari laba bersih yang akan perusahaan kumpulkan kedepannya, jadi nggak termasuk laba bersih yang sudah diperoleh di tahun Sekarang, ingat bahwa uang sebesar Rp1, pada sepuluh tahun yang lalu, nilainya berbeda dengan Rp1, pada saat ini jaman penulis kuliah dulu, seribu perak masih bisa dapet sebungkus nasi putih di warteg, tapi sekarang buat bayar parkir aja masih kurang.

Dan pada sepuluh tahun kedepan, sangat mungkin bahwa uang Rp1, tersebut akan semakin tidak bernilai lagi. Itu artinya, ketika kita mengatakan bahwa akumulasi laba bersih CPIN adalah 36, pada tahun , dan mengingat bahwa nilai dari duit sebesar 35 ribu perak di tahun segitu tentunya akan berbeda dengan 35 ribu perak pada saat ini, maka angkanya kemudian harus disesuaikan.

Dengan membaginya dengan angka bunga per tahun yang ditawarkan oleh instrumen investasi yang paling aman, dalam hal ini menurut Buffett bunga dari obligasi yang diterbitkan Pemerintah.

Katakanlah kita ambil suku bunga sukuk, yang angkanya 6. Maka, uang sebesar Rp36, di tahun adalah setara dengan Rp34, di tahun , dan setara dengan Rp32, di tahun , dan demikian seterusnya hingga menjadi.. Rp10,, di tahun Ditambah dengan posisi ekuitas terakhir perusahaan, yaitu Rp, maka totalnya menjadi Rp11, Maka bisa disimpulkan bahwa nilai intrinsik saham CPIN pada saat ini adalah kurang lebih 11,, masih jauh lebih tinggi ketimbang harga sahamnya, yang cuma 4, Kesimpulannya, saham CPIN masih murah!

However, angka 11, tadi bisa keluar sebagai nilai intrinsik untuk CPIN, kalau kita mengasumsikan bahwa CPIN ini cukup tangguh untuk secara stabil terus beroperasi hingga setidaknya 20 tahun kedepan. Sementara jika asumsi kita tidak seoptimis itu, yaitu bahwa CPIN hanya akan beroperasi hingga 10 tahun kedepan, maka nilai intrinsik CPIN, setelah penulis hitung, cuma Rp3, per saham, yang dengan demikian bisa dikatakan bahwa harga saham CPIN pada saat ini sudah overvalue.

Buffett sendiri biasa menggunakan angka 10 tahun kedepan untuk menghitung akumulasi laba bersih yang bisa dikumpulkan sebuah perusahaan. Dengan demikian, berikut adalah beberapa hal yang bisa disimpulkan dari ilustrasi perhitungan nilai intrinsik dan margin of safety diatas.

Nilai intrinsik biasanya lebih tinggi dari nilai buku. Konsep dasar dari nilai intrinsik adalah, ketika misalnya sebuah perusahaan memiliki modal bersih Rp milyar di neracanya yang disebut juga nilai buku , maka itu bukan berarti nilai intrinsik perusahaannya adalah sama persis Rp milyar juga, melainkan seharusnya lebih dari itu. Rata-rata PBV dari saham-saham di BEI sendiri, dalam kondisi market normal alias tidak bullish ataupun bearish, adalah 2.

Karena beberapa perusahaan yang PBV-nya rendah, katakanlah kurang dari 2 kali, itu bisa saja bukan karena sahamnya murah, melainkan karena perusahaannya emang nggak bagus, katakanlah laba bersihnya minus alias rugi, yang itu berarti modal perusahaan kedepannya bukannya naik tapi malah turun karena tergerus kerugian.

Atau, perusahaan masih mampu mencetak laba, namun persentase kenaikan labanya masih kalah dibanding laju inflasi baca: Dan kalau yang penulis perhatikan sendiri, dalam kondisi market yang normal, di BEI memang ada beberapa saham yang PBV-nya persis atau kurang dari 1 kali, tapi biasanya mereka tidak memenuhi kriteria saham yang bisa dihitung nilai intrinsiknya, yaitu kinerja perusahaan yang konsisten dalam jangka panjang, dan utang yang manageable akan dijelaskan dibawah.

Tapi bagaimana jika perusahaan memiliki utang? Ya itu berarti, perusahaan menanggung beban bunga yang akan mengurangi potensi laba. Karena itulah ketika kita mencari saham yang akan dihitung nilai intrinsiknya, salah satu kriteria yang juga tidak boleh dilewatkan adalah bahwa perusahaan yang bersangkutan harus memiliki jumlah utang yang tidak hanya tidak terlalu banyak, tetapi juga dikelola dengan baik, sehingga kemudian kita boleh mengasumsikan bahwa utang tersebut tidak akan mengganggu jumlah laba.

Dan terkait hal ini maka kita tidak bisa memilih saham-saham yang jumlah utangnya tidak terkendali, yang dari waktu ke waktu tidak pernah dilunasi melainkan gali lobang tutup lobang. Misalnya saham-saham Grup Bakrie. Perhatikan seberapa lama perusahaan beroperasi. Dalam contoh perhitungan nilai intrinsik diatas, tampak jelas bahwa dua asumsi yang berbeda, yaitu asumsi pertama bahwa perusahaan akan beroperasi selama 20 tahun, dan asumsi kedua bahwa perusahaan hanya akan beroperasi selama 10 tahun, ternyata menghasilkan nilai intrinsik yang juga jauh berbeda, yakni 11, dan 3, Artinya, mayoritas pelaku pasar cukup optimis bahwa CPIN masih bisa membuat pakan ayam dan nugget hingga 10 tahun kedepan, namun tidak cukup optimis bahwa CPIN bisa melakukan itu hingga 20 tahun kedepan.

Faktanya, CPIN sendiri berdiri dan beroperasi di Indonesia sudah cukup lama, yaitu sejak tahun , dan penulis tidak tahu bagaimana track record kinerjanya sejak tahun tersebut, tapi yang jelas sejak tahun CPIN ini untung terus. Namun tahukah anda kenapa UNVR dihargai jauh lebih mahal? Yap, benar sekali, itu karena perusahaan memiliki rekam jejak yang jauuh lebih lama ketimbang CPIN, yaitu sejak tahun , dan rasio profitabilitasnya juga lebih besar.

Artinya, jika untuk CPIN orang masih agak ragu ketika dikatakan bahwa perusahaannya akan bertahan hingga 20 tahun kedepan, maka untuk UNVR, jangankan 20 tahun, hingga 40 tahun kedepan juga orang masih akan percaya bahwa perusahaan ini masih akan tetap beroperasi dengan baik.

Karena itulah, seperti yang sudah disebut diatas, track record kinerja perusahaan dalam jangka panjang di masa lalu sangatlah penting dalam mengukur nilai intrinsik ini.

Sebaiknya hindari saham komoditas. Dalam menghitung nilai intrinsik, stabilitas kinerja perusahaan sangatlah penting. Contohnya, perusahaan-perusahaan batubara bisa mencetak laba bersih yang besar di satu tahun tertentu ketika harga batubara naik, tapi di tahun berikutnya bisa turun ketika harga batubara turun. Hal ini sebenarnya bisa diatasi dengan menganalisis pergerakan harga komoditas tersebut, apakah kedepannya akan naik atau turun, tapi bahkan Buffett-pun tidak bisa melakukannya.

Alhasil, ia lebih suka mengambil saham-saham yang harga produknya senantiasa naik terus dari waktu ke waktu seiring inflasi, tanpa fluktuasi yang berarti. Coba anda cek di supermarket, harga sekaleng Coca Cola, Sprite, dan Fanta memang naik terus bukan? However, dalam hal ini penulis punya pandangan yang sedikit berbeda. Yang disebut dengan komoditas, seperti emas, minyak, aneka jenis logam, batubara, hingga crude palm oil CPO , harganya memang berfluktuasi setiap tahun, seperti batubara dan CPO yang pernah mahal di tahun dan , sekarang menjadi murah meriah, dan pada akhirnya menyebabkan kinerja buruk bagi perusahaan yang memproduksi dua jenis komoditas ini.

Namun dalam jangka yang benar-benar panjang, harga dari berbagai jenis komoditas ini akan senantiasa naik karena inflasi dan meningkatnya permintaan seiring bertambahnya jumlah penduduk dunia. Jika sewaktu-waktu ada saham yang jatuh karena turunnya harga komoditasnya, contohnya seperti saham-saham batubara dan CPO yang sudah disebut diatas, maka itu justru merupakan buying opportunity, karena nanti kedepannya harga dua komoditas itu akan naik lagi.

Dan itu sebabnya, Lo Kheng Hong melalui Kontan. Lebih dari itu, berarti sahamnya mahal. Seperti sudah disebut diatas, Buffett hanya memilih saham yang punya track record kinerja puluhan, bahkan ratusan tahun salah satu saham Buffett, yaitu Coca Cola tadi, pertama kali beroperasi pada tahun , persis tahun ketika Buffett mulai mengkoleksinya tahun Meski demikian, dalam menghitung nilai intrinsik, Buffett hanya melihat akumulasi laba perusahaan dalam 10 tahun kedepan saja, tidak lebih.

Dan entah ada hubungannya atau tidak, namun dalam kaitannya menghitung harga wajar saham menggunakan PER, maka sebuah saham bagus bisa disebut murah kalau PER-nya 10 kali yang itu berarti, harga sahamnya sama dengan jumlah laba dikali sepuluh tahun , atau kurang dari itu. However, ketika Buffett pertama kali melirik Coca Cola, PER-nya ketika itu mencapai lebih dari 20 kali, yang itu berarti kemungkinan Buffett menyadari bahwa perusahaan ini punya potensi untuk bertahan jauh lebih lama dari sekedar 10 tahun.

Dan faktanya hingga hari ini, atau 25 tahun sejak Buffett pertama kali membelinya, Coca Cola masih nongkrong di portofolio Berkshire Hathaway. Nah, sekarang bagaimana jika saya menemukan saham bagus dengan nilai intrinsik setelah saya hitung 1,, tapi harganya di market 1, Apa yang harus saya lakukan? Namun pada akhirnya, harga suatu saham akan bertemu menjadi sama dengan nilai intrinsiknya tersebut. Market, atau saham itu sendiri, sedang bubble.

Dan ketika koreksi tersebut sudah cukup dalam, dimana saham A tadi sudah turun ke katakanlah , maka itulah saatnya untuk belanja. Disisi lain, jika anda menemukan saham B dengan nilai intrinsik 2,, sementara harganya di market cuma 1,, maka meski IHSG sedang tinggi-tingginya sekalipun, langsung saja beli saham B tersebut.

Buffett, seperti juga value investor lainnya kalau di Indonesia, Lo Kheng Hong , tidak begitu memperhatikan posisi indeks ketika mengincar suatu saham. Yang mereka perhatikan hanyalah nilai intrinsik dari saham yang mereka incar saja, apakah masih mahal atau sudah cukup murah. Satu hal lagi, seiring dengan pertumbuhan perusahaan, maka nilai intrinsiknya juga akan terus naik, dan demikian pula halnya dengan harga sahamnya.

So, jika anda sewaktu-waktu sudah membeli saham pada harga yang lebih rendah dari nilai intrinsiknya, yaitu ketika terjadi momentum koreksi pasar, maka selanjutnya tinggal duduk saja untuk menonton perusahaan anda bertumbuh, dan juga harga sahamnya.

Dari contoh perhitungan nilai intrinsik diatas, disebutkan bahwa ketika kita hendak mendiskon nilai saham di masa yang akan datang agar diperoleh nilainya pada saat ini, maka kita bisa menggunakan tingkat suku bunga sukuk sebagai patokan, yang sebesar 6. However, bunga sukuk tidak selalu 6. Dan jika bunga sukuk meningkat, maka harga saham akan semakin terdiskon, alias semakin rendah, atau dengan kata lain: Nilai intrinsik suatu saham akan semakin rendah ketika inflasi meninggi.

Dalam kondisi perekonomian negara yang normal, tingkat inflasi memang berubah setiap saat, namun pada akhirnya akan menemui titik keseimbangan di level tertentu. Tapi tahukah anda, berapa tingkat inflasi kita di tahun dan ? Percaya atau tidak, inflasi kita di tahun pernah mencapai Pialang Ilegal Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Bappebti mengeluarkan daftar nama pialang berjangka ilegal yang beroperasi di beberapa kota, melalui Bid VS Offer Membaca quotes sangatlah mudah.

Namun jika kita belum mengerti bisa membingungkan juga. Quotes pada transaksi forex biasa ditulis bersamaan dengan Cara Gampang Cari Duit dari Rumah. Pembaca tersebut, katakanlah namanya pak Cut Loss Cut Loss berarti kita menutup posisi yang ada karena harga bergerak berlawanan untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Averaging Averaging adalah membuka lagi posisi baru sesuai dengan posisi lama meskipun saat ini harga bergerak berlawanan dengan keyakinan harga saat ini akan Beberapa trader pemula menganggap memulai investasi forex dengan modal seminim Artinya bagaimana Anda dapat mengendalikan Resiko yang Thursday, 21 December - Monday, 4 December - Friday, 10 November - Thursday, 9 November - Tuesday, 31 October - Friday, 27 October - David Ryan David Ryan adalah seorang analis investasi dan manajer portofolio untuk perusahaannya sendiri yaitu Syarat Open Real Account Ingin tahu hal dasar apa saja yang harus diketahui oleh seorang pemula dalam dunia Forex Trading?

Seperti kita ketahui bahwa pembobotan SMA merupakan Dan penciptanya pun bukan MC Donald Zig Zag Halo Saudara, saat ini kita akan mempelajari tentang indikator zig zag. Rate of Change and Momentum Nah, dua indikator ini saya gabung sekalian. Pasti yang pertama kali timbul di benak kita dalah Relative Strength Index Diperkenalkan pertama kali oleh J.

Welles Wilder pada tahun pada bukunya New Concepts in Kini Anda tidak perlu merasa sulit dalam menghadapi berbagai berita! Pilihan tak Terbatas dalam Investasi Salah satu alternatif investasi terbaik Anda. Trend Investasi Masa Kini Bonus: